25 Juli 2008
Mulai, Mulai, dan Mulai!
Ditulis oleh Hary Lasmana dan telah dikomentari sebanyak 6 buahSeorang sahabat, kemarin, usai membaca tulisan diblog ini sedikit berkomentar tentang mudahnya saya mengucap teori yang disampaikan, namun nampaknya akan sulit diterapkan. Ia juga sedikit menyinggung detail tulisan ini mulai dari perencanaan yang nampaknya sulit dibuat, penyatuan ragam perbedaan ditengah masyarakat yang sulit disatukan, hingga pencapaian prestasi secara maksimal baik secara individu maupun kelompok. Kesemua itu baginya nampak lebih seperti mimpi di siang hari mengingat keadaan yang serba sulit saat ini.
Namun begitu, meski mengkritik habis-habisan, dalam hatinya ternyata terbersit juga sedikit harapan atas ide dalam tulisan saya tersebut yang ia harap dapat terwujud yaitu penanggalan kepentingan pribadi/kelompok diatas kepentingan bersama. Karena bagaimanapun, menurutnya, keterpurukan pada bangsa ini butuh jalan keluar dan itu dapat terjadi jika kita bersama-sama, bersatu padu dalam proses penyelesaiannya. Karena menurutnya, “Jika bukan kita lalu siapa?” Tak mungkin bukan jika kita harus mengemis pada Negara tetangga untuk membantu, meski serumpun, satu area wilayah yang sama, ataupun begitu dekatnya hubungan antar Negara, permasalahan yang dihadapi sebuah bangsa adalah tugas dan tanggung jawab bangsa itu sendiri untuk menyelesaikannya.
[klik pada judul untuk membaca selengkapnya]
Menerima komentar darinya, saya merasa bangga dan terharu. Bersyukur karena tulisan saya dibaca hingga selesai, dikritik, namun ada juga bagian yang diidamkan. Sungguh sebuah paduan yang unik dan menyegarkan sebagai penyemangat bagi saya secara pribadi untuk terus menulis dan berbagi pemikiran. Dan karena itulah kini saya kembali meneruskan tulisan pelengkap dari tulisan sebelumnya dengan harapan semoga dengan rangkaian kata ini dapat membantu mencerahkan pemikiran kita bersama dalam membangun bangsa tercinta. Dan untuk itu perkenankan saya mengajak kita semua untuk mulai menerapkan metode sederhana dalam perbaikan menerus bangsa ini melalui 3M; Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang.
Pada hakekatnya dalam membangun sesuatu yang besar, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil. Layaknya membangun sebuah rumah, keindahan dan kokohnya sebuah rumah seringkali bergantung pada hal-hal sepele sperti letak paku triplek yang menempelkan papan ke langit-langit, kualitas aci-an semen yang menghaluskan dinding, komposisi antara air, pasir, dan semen sebagai bahan utama dinding, hingga warna dan jenis cat yang dipergunakan, kesemuanya itu meski terlihat ringan namun jika diuraikan satu persatu memiliki fungsi yang sangat besar. Begitupun halnya dengan diri kita.
Seringkali kita mengabaikan hal-hal kecil yang berpengaruh besar dalam pembangunan karakter bangsa ini. Sebagai contoh misalnya tidak disiplin, egois, tidak bertanggung jawab, berpikiran negatif, dan hal buruk semacamnya yang mendorong terjadinya perilaku negatif kecil pada diri kita untuk melakukan hal-hal buruk yang menjadi kebiasaan seperti membuang sampah sembarangan, menyerobot lampu merah, atau membiarkan tanaman pagar menutupi trotoar yang melukai pejala kaki. Perilaku buruk ini tanpa disadari kelak dapat menimbulkan dampak serius seperti banjir, kecelakaan, hingga perselisihan karena hal sepele. Oleh karena itu sebelum kita melirik pada kekurangan orang lain, alangkah baiknya jika kita mulai mengkaji diri sendiri. “Telahkah kita mengoreksi kekurangan diri?”
Dengan memperbaiki hal-hal kecil dan sederhana yang merupakan kekurangan diri saat kita menyadarinya, takkan menutup kemungkinan melalui cara itu kita telah membangun satu pribadi yang berjiwa besar yang takkan memalukan bangsa apalagi merongrong. Tanpa menunda apalagi lebih condong pada cela dan kekurangan orang lain, tentu perbaikan yang dilakukan dapat segera dirasakan manfaatnya, baik pada diri sendiri maupun lingkungan kita berada. Bayangkan jika hal yang sama kemudian dilakukan secara masal, tentu dampaknya tidak hanya berpengaruh pada tingkat lokal namun juga di tingkat nasional. Dan jika hal yang demikian sungguh terjadi, tentu saja kembali dapat saya katakan bahwa cita-cita membangun bangsa ini bukanlah mimpi di siang hari bukan?
Salam,
Hary Lasmana

Subcribe RSS of this blog
25 Juli 2008
#1 Jeff berkomentar :
25 Juli 2008
#2 My berkomentar :
09 Agustus 2008
#3 Roy berkomentar :
1. Mulai dari diri sendiri,
2. Mulai dari hal kecil, dan
3. Mulaiiiiiiiii dari sekarang
(*Aa Gym)
10 Agustus 2008
#4 indah berkomentar :
13 Agustus 2008
#5 Ika berkomentar :
Peace N' Love
Merdeka!
13 Agustus 2008
#6 Ika berkomentar :