• Photo Galery

    • HLasmana Banner
    • February 2010
      MSSRKJS
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28
  • Archives

  • Content Tag

  • Testimonials

  • Blog Roll

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 10139 kali
  • Subcribe RSS of this blog
  • 24 Juli 2008

    Apa, Siapa, dan Bagaimana Membangun Bangsa

    Ditulis oleh Hary Lasmana dan telah dikomentari sebanyak 9 buah

    Kita tahu bahwa membangun negeri ini adalah tugas bagi setiap warga negaranya. Ini adalah satu kewajiban yang sepatutnya tak perlu lagi dipertanyakan. Siapapun ia, apapun pekerjaan dan jabatannya, status sosial masyarakat, hingga jenis kelaminnya apa? memiliki kewajiban sama untuk membangun bangsa dan negeri ini menjadi satu bangsa besar diantara bagian masyarakat dunia lainnya. Sebuah bangsa yang mampu menunjukkan dadanya seraya lantang berkata, “Aku bangsa Indonesia!”.

     

    Bicara tentang membangun bangsa dan negeri, sebagai sebuah bangsa besar yang kembali bangkit dari keterpurukan, menurut saya setidaknya ada tiga bagian yang perlu kita cermati dalam prosesnya yaitu, “Apa sebenarnya yang akan kita bangun, siapa yang perlu kita libatkan, dan bagaimana cara membangun yang tepat agar dapat berhasil seperti yang dicita-citakan?”. Ketiga hal dasar tersebut perlu dipersiapkan sebelum kita melangkah lebih jauh agar segala usaha membangun negeri tercinta ini tidak lagi berulang pada kegagalan sebagaimana yang pernah terjadi. Dan mengingat akan hal itulah, saya tertarik memperbincangkannya diblog ini. Tentang kepedulian kita akan nasib bangsa, tentang masa depan, tentang diri kita sendiri juga karena kita adalah bagian di dalamnya. Pada kesempatan ini perkenankan saya menguraikan tiga hal; apa, siapa, dan bagaimana, dalam kaitannya membangun bangsa kita. Bangsa Indonesia tercinta.

    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]
     

    Apa yang kita bangun, siapa yang perlu terlibat, dan bagaimana cara membangun yang tepat? 

    Pernahkah berpikir bahwa dalam hidup sebenarnya kemanakah arah langkah kita? Adakah sebenarnya tujuan besar yang ingin dicapai, cita-cita yang ingin diraih, atau sesuatu yang ingin diperoleh? Apakah kini kita sedang berjalan menuju ke tujuan hidup kita atau jangan-jangan malah sebaliknya? Sekedar menjalani tanpa tahu arah tujuannya…

     

    Pertanyaa semacam itulah yang perlu kita renungkan dalam membangun diri dalam kaitannya membangun bangsa ini. Melalui pertanyaan itu, sebagaimana membangun sebuah rumah, akan timbul satu perencanaan membangun sebelum memulai tindakan menuju cita-cita luhur tersebut.

     

    Sebuah tempat tinggal, baik itu besar maupun kecil butuh perencanaan sebelum dibangun, apalagi membangun sebuah bangsa. Cakupan pembangunannya sejauh mana, apa saja yang diperlukan, pengelolaan waktu, hingga persiapan bahan, dan semacamnya adalah syarat mutlak yang harus dipersiapkan dengan matang. Kita harus memiliki blue print yang berlandaskan dasar Negara dan UUD’45 dalam membangun bangsa ini dengan tujuan agar masyarakat adil dan makmur serta merata dapat terlaksana sempurna.

     

    Setelah memiliki perencanaan, saatnya merekonsiliasi, menyatukan seluruh komponen yang telah dipersiapkan. Entah itu pelaku, bahan-bahan, maupun ruang dan waktu, dillebur menjadi satu dalam proses pembangunan. Pada tahap ini keadaan mungkin akan terasa amat sulit dimana godaan besar, tantangan, juga keinginan untuk membuat perubahan-perubahan sesuai jaman akan timbul. Namun demikian, hanya dengan jiwa besar dan semangat nasionalisme kita akan mampu tetap berpegang teguh pada blue print, perencanaan sebelumnya, untuk menghindari penyimpangan dan gangguan seminimal mungkin. Dan kondisi semacam ini adalah kondisi yang sedang kita hadapi saat ini.

     

    Dengan adanya perencanaan yang matang dan konsistensi dalam proses membangun kita dapat dikatakan telah berjalan menuju cita-cita nasional bangsa ini, namun satu yang tak boleh diabaikan adalah, “Dengan cara bagaimana yang tepat membangun bangsa ini?”. Sebuah pertanyaan yang patut dimiliki oleh setiap komponen bangsa mulai dari rakyat jelata hingga penguasa.

     

    Dan bagi saya jawabannya adalah, “Berkarya sesuai kemampuan dan porsinya masing-masing!”.

     

    Kita adalah individu berbeda. Dari segi fisik, kehidupan, dan kemampuan. Dan karenanya, pun dalam berkarya demi tujuan yang satu yaitu membangun bangsa ini, hal yang paling mungkin untuk kita lakukan adalah berbuat yang terbaik, berprestasi dalam segala kegiatan. Bagi seorang pelajar, tekunlah belajar dan coba raih predikat terbaik di sekolah, bagi seorang karyawan coba bekerja sebaik mungkin untuk kemajuan perusahaan sehingga dapat berkompetisi secara global, atau apapun aktivitas kita, lakukanlah yang terbaik. Hanya dengan cara yang demikian bangsa ini mampu bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri dengan kebanggaan.

     

    Bangunlah diri sendiri, kemudian bantulah lingkungan terdekat, dan jika mungkin bangunlah masyarakat dalam skala nasional melalui perencanaan, penyatuan segala komponen yang diperlukan, juga sesuai kemampuan kita dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Lupakan egosentris diri demi kebangkitan bangsa ini. Dalam kebersamaan saya percaya kita mampu mewujudkan cita-cita bersama dan bukan hanya mimpi belaka.

     

    Salam,

    Hary Lasmana


    Ada 9 buah komentar untuk Apa, Siapa, dan Bagaimana Membangun Bangsa

    1. 24 Juli 2008

      #1 Rismardhani berkomentar :

      Terlalu lama kalau membangun diri sendiri dulu. Butuh berapa lama sampai seseorang betul-betul setle dan siap membangun? Lebih tepat membangun cita-cita negara adil makmur bersama sama. sebab dengan bersama-sama; pikiran, tenaga daya maupun finansial jauh lebih besar dan kemungkinan tercapainya cita-cita jauh lebih besar.
      Perlu diingat bahwa sebenarnya kita telah tertinggal waktu start, sarana dan informasi dibanding bangsa lain di dunia ini. Jadi satu-satunya cara justru dengan menggalang PERSATUAN dalam pergerakan kemajuan. Nah persatuan inilah yang saya amati saat ini masih amat kurang di individu bangsa negara ini. Dan ini justru menjadi kelemahan pergerakan pembangunan. Dimana masing-masing individu hanya mementingkan membangun diri sendiri saja dulu. Ayo bersatu ! Semua perbuatan dilihat harganya dari iktikad awalnya. Salam kasih sayang

    2. 08 Agustus 2008

      #2 jeff berkomentar :

      Pada dasarnya apa yang disampaikan Rismardhani betul, namun sayangnya kita ini terpecah belah karena kisruh politik kepentingan ya... HLasmana benar dalam berpikir jangka panjang dan Rismardhani juga benar dalam strategi jangka pendek. Nah yang penting sekarang bagaimana mengaplikasikannya?

    3. 08 Agustus 2008

      #3 Darmawan berkomentar :

      setuju... apalagi kalau dapat dukungan langsung berupa dana nih!

    4. 08 Agustus 2008

      #4 Yefrido berkomentar :

      Secara pribadi saya setuju dengan apa yang ditulis mas untuk mengurangi beban negara karena sikap ketergantungan masyarakat yang tidak mandiri. Selamat mas! tetap semangat menulis.

    5. 09 Agustus 2008

      #5 rial_egypt@yahoo.com berkomentar :

      Kalau secara pribadi (rakyat biasa) sih sah-sah saja apa yang mas hary sampaikan, tapi yg penting untuk membangun bangsa ini satu yg tak kalah penting adalah perlu jalinan dan saling dukung mendukung antara Penguasa, Akademisi, dan Praktisi sehingga cita-cita nasional dapat terwujud

    6. 10 Agustus 2008

      #6 adit berkomentar :

      Sayangnya bangsa kita belum memiliki inisiatif dan kemandirian seperti yang Hary sampaikan. Tapi bagaimanapun kita harus tetap optimis semoga dengan pemerataan pendidikan dan pembangunan dalam jangka pendek dan panjang kita mulai mengejar ketertinggalan. Amin.

    7. 10 Agustus 2008

      #7 Roy berkomentar :

      duh har... jgn kan bangun bangsa, bangunin diri ndiri pagi2 aj w susah... gimana dunk?

    8. 10 Agustus 2008

      #8 indah berkomentar :

      Memang benar dengan cara tersebut bisa membangun bangsa ini, tetapi jangan dilupakan bahwa yang berkewajiban mewujudkan masyarakat mandiri adalah tugas pemerintah.

    9. 11 Agustus 2008

      #9 Ucup berkomentar :

      Har kalau boleh nambahin tulisan ini, perlu juga tolak ukur pribadi soalnyakan setiap orang punya kelebihan dan kelemahan. Dan selain itu kalau bisa ketercapaiannya dievaluasi ok.

    Leave a Reply

    Note: Comment untuk tulisan ini tidak diperkenankan format html

    footer