Bicara tentang narkoba, benak saya pasti akan kembali ke teman-teman lama yang dulu (saat remaja) biasa berkumpul bersama. Entah itu di sekolah maupun di lingkungan rumah, saat itu, usia belasan tahun memasuki puber adalah saat dimana kebebasan dan pengakuan diri adalah sesuatu yang amat berharga. Dan pada keadaan itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar rasanya jika kemudian coba-mencoba sesuatu (terlepas dari baik ataupun buruknya) menjadi kegiatan yang kerap dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri. Pun termasuk juga didalamnya mencoba narkoba.


[klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

Merefleksi ke masa-masa itu dan membandingkan dengan keadaan saat ini, mengingatnya, ada perasaan sedih bergelayut di hati yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Pahit jika mengingat kenangan buruk yang seharusnya abadi karena hal indah didalamnya, getir karena harus mengakui bahwa pada kenyataan hampir separuh kawan yang tumbuh bersama kala remaja telah menghadapNya akibat salah jalan. Terperangkap jerat narkoba. Dan itulah sebabnya kemudian akhirnya saya memilih jalan sendiri, menjaga jarak dengan teman-teman yang demikian hanya untuk tak terbawa arus lebih jauh lagi. Ya, dengan berat hati saya memisahkan diri dari kawan-kawan untuk mengeringkan badan yang basah demi melanjutkan perjalanan hidup yang begitu indah ini meski harus kehilangan banyak moment kebersamaan bersama teman sebaya yang perlahan tak nampak lagi dari tatapan mata karena arus telah membawanya entah kemana.

 

Namun demikian, ada satu yang tak bisa dibohongi, bahwa saya memiliki hati dan perasaan. Bahwa teman-teman saya yang terbawa arus juga adalah seorang anak manusia yang pada dasarnya sama dengan saya, hanya mungkin karena keadaan, kebutuhan akan penghargaan, kasih sayang, dan perhatian dari lingkungan terdekat yang kurang jiwa labil mereka condong akan keinginan jangka pendek itu dibanding pemikiran jangka panjang untuk berprestasi dan memiliki kehidupan lebih baik. Karena itulah kemudian saya kembali berkumpul pada mereka untuk berbagi.

 

Memberi cinta dan kasih sayang, dan memperlihatkan kenyataan bahwa dengan meninggalkan aliran kehidupan dimana narkoba berada didalamnya saya mendapat cahaya kehidupan yang lebih cerah, udara yang jauh lebih segar, dan kenyataan akan peluang cita-cita dan bukannya mimpi. Alhamdulillah usaha itu tidak sia-sia dan berbuah keberhasilan. Beberapa sahabat akhirnya menerima kenyataan dan perlahan mampu mengatakan TIDAK pada narkoba meski melalui perjalanan panjang dan amat sulit. Saya beryukur, ia bersyukur, keluarganya bersyukur, Tuhan memberi jalan pada keinginan-keinginan baik kami yang awalnya begitu sulit.

 

Hingga kini jika dihitung, total korban akibat menggunakan narkoba diantara teman-teman saya melebihi jumlah kedua jari tangan dan kaki. Sungguh sebuah jumlah yang sangat disayangkan bukan mengingat usia remaja yang biasanya mulai mengenal narkoba adalah usia produktif? Mereka calon pemimpin masa depan yang kelak di pundaknya tergantung kejayaan bangsa dan kehormatan keluarga. Tapi apa hendak dikata itulah kenyataannya. Dan kini, untuk mencegah bertambahnya korban lain, hanya kita, dengan bergandengan tangan saling mengisi dan berbagi demi masa depan yang lebih baik yang akan mampu menghentikannya.

 

Dan jika boleh menyarankan, jika pada lingungan terdekat kita terdapat pengguna narkoba, coba rangkul dan bertemanlah dengan cara yang bijak. Siapapun kita, jika ingin orang-orag terdekat kita ingin terbebas dari narkoba, satu hal yang perlu dimiliki adalah jadilah kita bagian dari kebutuhan mereka. Tempat mereka berbagi dan tukar pikiran, dan bukan hanya bisa mengucilkannya karena jalan salah yang mereka tapaki. Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah korban yang harus dibantu dan hanya dengan dorongan diri untuk sembuh dan kasih sayang juga perhatian yang tulus dari lingkungan terdekat yang dapat membantu penyembuhan diri untuk keluar dari jerat lingkaran setan narkoba. Metode penyembuhan apapun selama keinginan sembuh dan kesadaran diri yang lemah akan sia-sia.

 

Karena itu, benteng dan obat mujarab untuk menghancurkan narkoba di lingkungan terdekat kita tiada lain adalah pemberian pengertian dengan balut cinta dan kasih sayang melalui perhatian yang terus menerus sehingga mereka sadar bahwa masih ada seseorang yang mengasihi, mencintai, dan bersedia berbagi dengan mereka dalam kehidupan ini. Dan orang itu adalah kita, temannya, keluarganya, sahabat yang tidak menghakimi namun mengulurkan tangan untuk mengeluarkannya dari bayang kehidupan mimpi ke kehidupan sesungguhnya. Saya percaya kita mampu melakukannya.